Bagi wisatawan Muslim, Jepang menawarkan pengalaman yang menarik—mulai dari kuliner, budaya, hingga pemandangan alamnya. Namun, satu hal yang sering menjadi pertanyaan adalah: seberapa mudah menemukan makanan halal di Jepang?
Salah satu hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa sistem sertifikasi halal di Jepang berbeda dengan Indonesia.
Di Indonesia, sertifikasi halal memiliki sistem nasional yang dikelola pemerintah melalui BPJPH. Sementara di Jepang, tidak terdapat satu badan pemerintah yang secara khusus menjadi otoritas tunggal sertifikasi halal. Sertifikasi dilakukan oleh berbagai organisasi independen, termasuk NPO dan organisasi keagamaan.
Apakah Jepang Memiliki Sertifikasi Halal?
Ya, Jepang memiliki sertifikasi halal, tetapi sistemnya berbeda dengan Indonesia.
Beberapa organisasi di Jepang melakukan audit dan menerbitkan sertifikat halal untuk restoran, produk makanan, fasilitas produksi, hingga berbagai layanan.
Salah satunya adalah NPO Japan Halal Association (JHA). JHA menjelaskan bahwa proses sertifikasi dilakukan dengan memeriksa bukan hanya bahan baku, tetapi juga proses produksi, bahan kemasan, hingga sistem pengelolaan untuk memastikan tidak terdapat unsur yang berpotensi haram.
Selain JHA, terdapat pula organisasi sertifikasi halal lainnya di Jepang, sehingga logo halal yang ditemukan di restoran atau produk Jepang dapat berbeda-beda tergantung lembaga yang melakukan sertifikasi.
Mengapa Logo Halal di Jepang Bisa Berbeda?
Karena Jepang tidak memiliki satu lembaga pemerintah yang menjadi satu-satunya penerbit sertifikat halal, maka tidak ada satu logo halal nasional yang wajib digunakan oleh seluruh bisnis.
Setiap lembaga sertifikasi dapat memiliki:
- Logo yang berbeda
- Prosedur audit yang berbeda
- Standar sertifikasi tertentu
- Masa berlaku sertifikasi dan prosedur pembaruan yang berbeda
Karena itu, melihat logo halal saja belum tentu cukup. Jika ingin memastikan kredibilitasnya, wisatawan Muslim dapat melihat siapa lembaga yang menerbitkan sertifikat tersebut dan apakah lembaga tersebut memiliki pengakuan dari organisasi halal di negara lain.
Sebagai contoh, Japan Halal Association menyebutkan bahwa sertifikasinya telah memperoleh pengakuan dari sejumlah lembaga internasional, termasuk JAKIM Malaysia, MUIS Singapura, BPJPH Indonesia, serta beberapa lembaga di negara lainnya.
Apa Sebenarnya Fungsi Sertifikasi Halal?
Sertifikasi halal pada dasarnya adalah jaminan dari pihak ketiga bahwa produk atau layanan telah melalui proses pemeriksaan berdasarkan standar halal yang digunakan oleh lembaga sertifikasi tersebut.
Dalam proses audit, yang diperiksa bukan hanya bahan makanan.
Untuk produk tertentu, pemeriksaan dapat mencakup:
Bahan baku ? proses produksi ? peralatan ? bahan kemasan ? sistem pengelolaan.
Hal ini penting karena bahan yang pada dasarnya halal pun dapat menjadi bermasalah apabila dalam proses produksinya terjadi kontaminasi atau kontak dengan bahan yang haram.
Namun, tidak adanya sertifikat halal bukan otomatis berarti sebuah makanan haram.
Misalnya, air, sayuran, ikan, beras, buah-buahan, dan berbagai bahan alami pada dasarnya tidak memerlukan sertifikasi halal khusus untuk dapat dikonsumsi, meskipun dalam kondisi tertentu suatu produk dapat saja memilih untuk mendapatkan sertifikasi.
Bagaimana dengan Restoran yang Tidak Memiliki Sertifikat Halal?
Inilah bagian yang cukup penting bagi Muslim yang berwisata ke Jepang.
Tidak semua restoran yang tidak memiliki sertifikat halal berarti tidak dapat dikunjungi. Sebagian bisnis memilih pendekatan “Muslim-Friendly”.
Konsep Muslim-Friendly pada dasarnya berarti sebuah bisnis berusaha memenuhi kebutuhan pelanggan Muslim, meskipun belum memiliki sertifikasi halal resmi dari lembaga sertifikasi.
Misalnya, sebuah restoran dapat menyediakan:
- Menu tanpa daging babi
- Menu tanpa alkohol
- Peralatan makan khusus
- Informasi mengenai bahan makanan
- Menu vegetarian atau seafood
- Pernyataan atau kebijakan Muslim-Friendly
Namun, Muslim-Friendly tidak sama dengan Halal Certified.
Keduanya sebaiknya dipahami sebagai kategori yang berbeda.
Halal Certified
Produk atau restoran telah melalui proses audit dan mendapatkan sertifikasi dari lembaga halal tertentu.
Muslim-Friendly
Bisnis berupaya menyediakan pilihan yang sesuai dengan kebutuhan Muslim, tetapi belum tentu memiliki sertifikasi halal.
Karena standar dan tingkat jaminannya berbeda, wisatawan tetap perlu memperhatikan informasi yang diberikan restoran.
Mengapa Banyak Bisnis Jepang Memilih Muslim-Friendly?
Sertifikasi halal membutuhkan proses audit, penyesuaian bahan dan operasional, serta biaya.
Menurut Food Diversity, biaya sertifikasi dapat berbeda tergantung ukuran dan jenis bisnis. Sebagai gambaran yang mereka berikan, sertifikasi restoran dapat berada di kisaran ratusan ribu yen, sementara perusahaan dapat mencapai jutaan yen. Biaya dan masa berlaku juga bergantung pada lembaga sertifikasi yang digunakan.
Di sisi lain, mayoritas masyarakat Jepang bukan Muslim. Karena itu, restoran juga harus tetap mempertimbangkan bagaimana mempertahankan pelanggan lokal sambil memenuhi kebutuhan wisatawan Muslim.
Inilah salah satu alasan mengapa pendekatan Muslim-Friendly berkembang sebagai alternatif bagi bisnis yang ingin lebih ramah terhadap wisatawan Muslim tanpa langsung menjalani seluruh proses sertifikasi.
Apa Keuntungan Sertifikasi Halal bagi Bisnis?
Meskipun membutuhkan biaya dan proses, sertifikasi halal memiliki beberapa manfaat.
1. Memberikan kepercayaan kepada konsumen Muslim
Logo dan sertifikat halal membantu wisatawan Muslim mengenali produk yang telah melalui pemeriksaan pihak ketiga.
2. Membuka peluang pasar internasional
Sertifikasi halal dapat menjadi persyaratan dalam perdagangan dengan negara tertentu. Karena itu, perusahaan Jepang yang ingin mengekspor produk ke pasar Muslim perlu memperhatikan apakah negara tujuan mensyaratkan sertifikasi halal dan lembaga sertifikasi mana yang diakui.
3. Memperluas pasar wisatawan Muslim
Pertumbuhan wisatawan Muslim membuat kebutuhan terhadap makanan dan layanan yang ramah Muslim semakin meningkat. Japan Halal Association juga mencatat bahwa kebutuhan industri halal kini tidak hanya terbatas pada makanan, tetapi berkembang ke kosmetik, farmasi, pariwisata, keuangan, dan berbagai kebutuhan kehidupan lainnya.
Tantangan Sertifikasi Halal di Jepang
Di sisi lain, sertifikasi halal juga memiliki tantangan.
Pertama, biaya. Bisnis harus mempertimbangkan biaya audit, penyesuaian operasional, hingga biaya pembaruan sertifikat.
Kedua, operasional. Restoran mungkin perlu menyesuaikan bahan, pemasok, dapur, peralatan, hingga cara penyimpanan.
Ketiga, komunikasi kepada konsumen. Sebagian bisnis khawatir label halal akan membuat konsumen lokal menganggap restoran tersebut hanya diperuntukkan bagi Muslim.
Karena itu, setiap bisnis memiliki strategi yang berbeda dalam menentukan apakah akan mengambil sertifikasi halal atau menggunakan pendekatan Muslim-Friendly.
Bagaimana Wisatawan Muslim Menemukan Makanan Halal di Jepang?
Jangan hanya mengandalkan tulisan “Halal” di depan restoran.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan:
1. Periksa logo dan lembaga sertifikasi
Jika sebuah restoran mencantumkan logo halal, lihat siapa lembaga yang menerbitkannya.
2. Periksa bahan makanan
Perhatikan bahan-bahan yang umum digunakan dalam masakan Jepang, terutama pork, lard, mirin, sake, cooking alcohol, dan bahan turunannya.
3. Tanyakan kepada restoran
Jika ragu, tanyakan apakah makanan mengandung alkohol, babi, atau bahan turunannya, serta apakah peralatan memasaknya digunakan bersama dengan makanan non-halal.
4. Gunakan aplikasi atau database halal
Aplikasi dan database khusus Muslim dapat membantu menemukan restoran halal maupun Muslim-Friendly di sekitar lokasi perjalanan.
5. Jangan menyamakan Muslim-Friendly dengan Halal Certified
Ini adalah hal yang paling penting.
Label Muslim-Friendly dapat membantu, tetapi wisatawan tetap perlu memahami kebijakan restoran dan tingkat jaminan kehalalannya.
Jadi, Apakah Aman Mencari Makanan Halal di Jepang?
Bisa, asalkan memahami sistemnya.
Jepang memang memiliki sistem halal yang berbeda dari Indonesia. Tidak adanya satu badan pemerintah yang menjadi otoritas tunggal bukan berarti Jepang tidak memiliki makanan atau restoran halal.
Justru, ekosistem halal di Jepang berkembang melalui berbagai organisasi sertifikasi, komunitas Muslim, pelaku usaha, dan bisnis yang menerapkan konsep Muslim-Friendly.
Bagi wisatawan Muslim, kuncinya adalah tidak hanya melihat logo, tetapi memahami siapa yang memberikan sertifikasi, apa yang diperiksa, dan bagaimana kebijakan restoran tersebut.
Dengan sedikit riset sebelum makan, perjalanan ke Jepang tetap bisa menjadi pengalaman yang nyaman—termasuk menikmati kuliner lokal tanpa mengabaikan prinsip halal.
Catatan Penting
Standar sertifikasi halal tidak sepenuhnya seragam di seluruh dunia. Japan Halal Association sendiri menjelaskan bahwa tidak terdapat satu standar halal global yang berlaku secara universal. Karena itu, pengakuan dari lembaga halal di negara lain dapat menjadi salah satu indikator penting ketika menilai kredibilitas sebuah lembaga sertifikasi.
Untuk wisatawan Indonesia, informasi mengenai lembaga sertifikasi dan pengakuan BPJPH dapat menjadi salah satu hal yang diperhatikan ketika memilih produk atau restoran halal di Jepang.
Jadi, saat traveling ke Jepang, jangan hanya bertanya: “Apakah restoran ini halal?”
Lebih baik tanyakan:
“Siapa yang menjamin kehalalannya, dan standar apa yang digunakan?”
Dengan memahami perbedaan Halal Certified, Muslim-Friendly, dan sekadar klaim halal, perjalanan kuliner di Jepang menjadi jauh lebih aman dan nyaman bagi wisatawan Muslim.
Lebih Mudah Mencari Makanan Halal dengan GohalalGo
Mencari makanan halal di Jepang tidak selalu mudah. Informasinya tersebar di berbagai sumber, sementara status halal sebuah restoran juga dapat berubah seiring waktu. Bahkan, beberapa panduan halal terbaru melakukan verifikasi ulang karena restoran dapat tutup, berpindah lokasi, atau mengalami perubahan status sertifikasi.
Di sinilah GohalalGo hadir untuk membantu perjalanan Muslim menjadi lebih praktis.
Melalui fitur Halal Food Corner, GohalalGo mengkurasi dan mengumpulkan informasi mengenai restoran dan makanan halal dari berbagai sumber yang relevan, sehingga wisatawan tidak perlu mencari informasi secara terpisah di banyak tempat. Untuk destinasi Jepang, data dikembangkan dengan memanfaatkan berbagai referensi halal seperti Halal Food Japan, Halal Food in Japan, Halal Gourmet Japan, dan Halal Navi, kemudian disusun agar lebih mudah ditemukan oleh wisatawan Muslim.
Lihat Halal Food Corner GohalalGo
Yang membuatnya semakin menarik, Halal Food Corner bukan hanya untuk Jepang. Database ini sedang terus dikembangkan untuk berbagai destinasi dunia. Saat ini pengembangan mencakup Korea, Jepang, dan Australia, kemudian akan diperluas ke Eropa, China, Vietnam, dan Thailand. Halaman Halal Food Corner GohalalGo sendiri sudah menyediakan kategori destinasi seperti Korea, Jepang, Singapore, China, Australia, Vietnam, dan Thailand.
Dengan begitu, GohalalGo bukan sekadar membantu menjawab pertanyaan “di mana saya bisa makan?”, tetapi membantu wisatawan Muslim menemukan dan membandingkan informasi makanan halal berdasarkan destinasi yang sedang mereka kunjungi.
Satu aplikasi untuk perjalanan yang lebih tenang—mencari makanan halal, menemukan tempat ibadah, dan menikmati perjalanan tanpa harus terus-menerus khawatir mencari informasi dari berbagai sumber.
Traveling Halal Jadi Lebih Praktis
Jepang mungkin memiliki sistem halal yang berbeda dengan Indonesia. Informasinya pun tersebar di berbagai lembaga dan sumber. Namun, dengan persiapan yang tepat dan bantuan teknologi, wisatawan Muslim tetap dapat menikmati perjalanan dengan lebih nyaman.
Sebelum berangkat ke Jepang, pastikan GohalalGo sudah ada di smartphone Anda.
GohalalGo — Teman Perjalanan Halal Anda.
Sumber:
https://jhalal.com/en/halal-cert-en/about-halal-cert-en
https://fooddiversity.today/id/article_105140.html